Total Tayangan Halaman

Rabu, 27 Mei 2020

Siapakah Jaminan Hidup Saya? II 2 Korintus 5:5 II Almanak Harian II Kamis, 28 Mei 2020.


Renungan Harian
(Almanak HKBP)
Kamis, 28 Mei 2020

“Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jamina segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita”
(2 Korintus 5:5)

Seorang anak laki-laki remaja pergi menonton pertandingan Sepakbola bersama seorang pendeta di gerejanya dengan berjalan kaki. Ditengah perjalanan, remaja itu berkata: “Pak Pendeta, sesungguhnya orang tidak suka selalu mendapat perintah ‘harus’ dan ‘tidak harus’, seperti keterangan Firman Tuhan yang bapak sampaikan semalam pada ibadah Minggu. Karena kita layaknya di kekang dan terjajah, tidak ada kebebasan dalam keadaan tersebut.”

Pendeta itu tidak berkomentar. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah persimpangan dan tepat di rambu-rambu mengarah ke kanan, dimana lapangan sepakbola itu berada. Namun si Pendeta terus saja berjalan tanpa menghiraukan rambu-rambu itu, hingga anak remaja itu setengah berteriak mengingatkan: “Kita salah arah!!! Bapak tidak melihat tanda yang menunjukkan lapangan ke arah kanan”, serunya.

Pendeta itu menjawab dengan tenang: “Saya melihat tanda itu, tapis saya piker jalan inilah yang terbaik dan saya tidak suka diperintah untuk pergi ke sini dan kesana oleh rambu-rambu tua itu. Hal ini membuat saya terjajah dan merampas kemerdekaan saya dalam bertindak”.

Anak remaja itu terdiam dan benar-benar menerima pelajaran berharga dari pesan itu, ketika mereka kembali ke arah lapangan sepakbola.

Demikian Allah telah memberikan RohNya kepada kita untuk membimbing kita senantiasa menuju arah yang benar, walau sering sekali kita mengabaikannya bahkan tidak sedikit yang malah tega tidak menggubrisnya dalam setiap aktifitasanya sehari-hari. Jika saja kita mengetahui bahwa RohNya itu adalah jaminan bagi kita untuk setiap hal yang telah disediakan Allah bagi kita kelak, hidup kita akan diliputi sukacita, walau banyak hal dalam dunia ini tidak pernah membuat kita bahagia dan bersukacita.

Saat ini dengarlah RohNya yang berdiam di hati kita, sebab Dialah yang mengajari kita berdoa, mengaku bahwa Yesus itu Allah dan Tuhan kita itu Esa.

Saat ini di masa-masa ‘New Normal Life’ (membiasakan cara hidup yang baru), mungkin akan semakin banyak tawaran pekerjaan, perbuatan, pola pikir, motivasi dan pilihan-pilihan jalan hidup yang seluruhnya akan baru, dengarlah suara RohNya dalam hati kita masing-masing, berilah Dia yang menuntun kita memilih dan menetapkan kebiasaan apa yang harus kita ikuti dan jalani, supaya kelak ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan hidup kita, kita didapatiNya tidak bercacat dan bercela.

Selamat pagi dan beraktifitas…
Selamat menyongsong Perayaan Pentakosta I & II…
(Hari ke 50 – Hari Turunnya Roh Kudus).
Biarlah Roh Kudus membimbing dan menuntun jalan kita.
Salam sehat.
Tuhan memberkati!


BE.471:4 “Hupilit Jesus Donganki” (B.L. 318)

Mangkophop goarMi dison, sai I las ni rohangku.
Dung sahat au di sorgo I, sai tongtong do dohononku:
Jesus ngolungku, hatuaonku, Jesus di Ho au nasa diringku.
Jesus ngolungku, hatuaonku, sangap di Ho, Jesusku, Tuhanku!

Selasa, 26 Mei 2020

Allahku Maha Besar, Maka Butuh Usahaku Yang Besar MengenalkanNya Didalam Hidupku II Yohanes 17:11 II Renungan Harian II Rabu, 27 Mei 2020.



RENUNGAN HARIAN
(Almanak HKBP)
Rabu, 27 Mei 2020.

“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”.
(Yohanes 17:11)

“Kamu Itu Penting Dan Berharga”
Sebuah tulisan ditempel di dinding salah satu perusahaan,agar pekerjanya tetap masuk kerja:
Bila kamu ingin membolos tanpa memberitahu pimpinan dan kamu pikir bahwa ketidakhadiran satu orang tidak akan mengganggu, maka kamu membuat pimpinanmu seperti seorang yang mengetik dengan mesik ketik yang satu hurufnya hilang. Dia memang bisa mencarikan seseorang menggantimu, tapi hasilnya tentu tidak akan sama seperti bila dia bekerja dengan orang yang memang tepat untuk pekerjaan di posisimu. Jika itu didiamkan, bayangkan bagaimana sebuah kalimat akan berantakan jika satu huruf hilang dari tiap susunan kalimat. Demikianlah, engkau sangat dibutuhkan dan berharga”.

Sesaat sebelum Yesus terangkat ke Sorga, Dia sungguh membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang sangat dia kasihi, hingga Dia masih juga mendoakan kita kepada Bapa bahkan berdoa agar kita dipersatukan dengan Bapa, seperti Dia satu dengan Bapa. Yohanes 17:11“Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”.

Sukacita kita telah dipersatukan oleh Yesus kepada Allah, sesungguhnya membuat kita tidak lagi merasa tidak berharga sekalipun dunia dan sekitar kita menolak bahkan menganggap kita tidak layak. Sesungguhnya tidak ada alasan bagi siapapun, dengan kadaan fisik apapun, dengan pekerjaan apapun bahkan saat kita tidak seberuntung dari saudara-saudara kita yang lain berkata: “Aku tidak berguna”. Percayalah bahwa di dalam Yesus kita telah menerima apa yang layak Dia terima, bahkan sukacita Yesus yang penuh karena Allah Bapa terus menyertainNya, walau dunia menolak, membenci bahkan menyalibkan Dia, sukacita dan pernyertaan itu itu jugalah yang kita miliki saat ini.

Yakin dan percayalah, bahwa kita adalah orang-orang yang unggul dan beruntung, sebab punya Allah Maha Kuasa yang selalu hadir di dalam setiap pergumulan, bahkan saat kita dalam masalah hingga titik terendah sekalipun, seperti yang dialami Yesus di dunia.

Maka tidakkah selayaknya kita harus balas dengan mencintai dan menghargai apapun yang kita miliki sekarang? Mungkin secara pribadi, keluarga, pekerjaan dan kekayaa,n kita tidak sesempurna saudara kita yang lain, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang sempurna, yang senantiasa memelihara kita dan mencukupkan apapun yang saat ini kita butuhkan. Hanya saat ini perlu perjuangan dari kita yang tidak boleh asal berjuang. Jika kita percaya kita mempuyai Allah Maha Besar, bukankah kita harus berjuang memperkenalkan Dia dengan usaha yang besar? Sebab ketika kita senantiasa bersyukur dan bersukacita di dalam kesulitan, maka hidup kita akan menjadi kotbah hidup bagi mereka yang belum yakin atau belum mengenal akan Yesus. Tunjukkanlah semangat besarmu di dalam menjalani hidupmu, sebab engkau punya Allah yang Maha besar dan penuh kuasa. Amin.

Tetap semangat mensyukuri keadaan..
Tuhan mendengar doa dan kerinduan..
Salam...

Jumat, 22 Mei 2020

Lalat Pesawat Terbang Canggih Tuhan II Mazmur 68:5 II Renungan Harian II Sabtu, 23 Mei 2020.


Renungan Harian
(Almanak HKBP)
Sabtu, 23 Mei 2020

Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!
(Mazmur 68:5)

Pesawat Terbang Kelas Satu
Suatu hari saya sedang duduk di ruangan dan tiba-tiba seekor lalat masuk. Ia terbang ke sana ke mari, hinggap kapan saja dan di mana saja sesuai keinginannya. Dia menukik dan hinggap di sisa-sisa makanan. Dia melakukan apa yang ia kehendaki, kapan saja ia ingin melakukan itu.

Sungguh seekor lalat itu luar biasa. Dia mengalahkan pesawat terbang buatan manusia secanggih apapun pesawat itu tidak ada yang bisa terbang seperti lalat ini. Ia terbang tanpa landasan pacu, dia mendarat tiba-tiba. Dia tidak pernah bertabrakan atau menabrak sesuatu atau mengalami kecelakaan. Pilotnya tidak perlu belajar terbang dan tidak butuh surat ijin terbang. Ia tidak pernah mengalami yang namanya kerusakan mesin atau kehabisan bahan bakar. Hal yang paling hebat adalah: dia bisa memproduksi pesawat yang sama tanpa kerja berat.

Sungguh sulit menemukan sebuah computer atau mesin yang bisa menyamai kemampuan seekor lalat. Ia sekedar merupakan salah satu ciptaaan Tuhan, yang memperlihatkan bahwa sosok Jenius yang memproduksinya.

Sepatutunyalah Tuhan yang Maha itu layak di puji oleh manusia yang hina ini. MemuliakanNya di Tempat Yang Maha Tinggi oleh kita orang-orang yang berada di tempat rendah ini. Mengapa demikian, kita sesungguhnya telah banyak menyaksikan kuasaNya yang tidak terpikirkan, ciptaanNya yang Maha dasyat, tidak tersembunyi, bahkan tidak terhitung yang niscaya membuat kita kagum oleh kuasaNya.

Bukankah demikian Tuhan bisa berkehendak sesuka hatinya atas musuh-musuh dan keadaan yang menyulitkan kita? Bukankah demikian mudahnya Tuhan membuat musuh-musuh dan keadaan sulit kita bertekuk lutut dihadapanNya walau dengan ciptaanNya yang kecil dan hina? Lihat bagaimana raja Mesir lalim dan sombong itu, tidak bisa berkutik dengan segala senjata dan tentara perang yang kuat dengan tulah dari Tuhan: Harus tahluk oleh ciptaanNya yang ‘nyaris terabaikan’, salah satunya tulah ketiga ya itu nyamuk. Bukankah sesungguhnya Tuhan sangat berkuasa atas pemerintahan lalim sekuat dan selengkap apapun perlengkapan perangnya?

Maka saatnya bersandar dan serahkanlah sepenuhnya kekhawatiran kita saat ini kepadaNya, biar Tuhan yang memulihkan hati kita, terlebih memberikan kemampuan kepada kita menghadapi ‘the new normal life’ (kehidupan normal yang baru), yang setuju atau tidak harus kita terima. Biarlah seperti bangsa Israel yang harus berdampingan bahkan hidup dengan kekuasaan dan kesewenang-wenangan Mesir yang bisa mengancam nyawa mereka kapan saja, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, bahkan membiarkan bangsa Israel binasa sia-sia. Demikian dengan kita, biarlah berdampingan dengan Virus yang mematikan ini, asalkan kita selalu bergantung dan berserah kepada Tuhan, maka hikmat dan kebijaksanaan yang diberikan kepada kita, akan memampukan kita menyesuaikan diri dengan keadaaan. Jauhlah kiranya pikiran menyerah, bosan bahkan stress berlebihan seakan Tuhan kita tidak bisa melakukan apa-apa. Cukup lipat tangan dan berserah berdoa, kemudian lakukan aktifitas dengan berserah sesuai doa kita.

Tuhan mendegar setiap doa dan kerinduan kita…
Salam sehat…
Tetap waspada…
Horas! Horas! Horas!


Buku Ende. 585 : 2 “Somba ma Jahowa”
2. Puji ma Jahowa Debatanta, Amen Haleluya
Parasi roha na sumurung do Ibana, Amen Haleluya
Taendehon ma goar ni Debatanta, Amen Haleluya
Alani denggan ni basaNa tu hita, Amen Haleluya.
Endehon; “Amen Haleluya, endehon Amen Haleluya
Endehon Amen Haleluya, endehon Amen Haleluya”.
( Mari puji Tuhan Allah kita, Amin Haleluya
Sungguh besar kasih setiaNya pada kita, Amin Haleluya
Mari hidup dengan rukun dalam Tuhan, Amin Haleluya
Di dalam rumah tangga Tuhan kita, Amin Haleluya
:,: Nyanyikan Amin Haleluya, nyanyikan Amin Haleluya
Nyanyikan Amin Haleluya, nyanyikan Amin Haleluya :,:)

Kamis, 21 Mei 2020

Aku Kehilangan, Tetapi Aku Bersukacita KarenaNya II 2 Raja-raja 2:12 II Renungan Harian II Jumat, 22 Mei 2020.


Renungan Harian
(Almanak HKBP)
Jumat, 22 Mei 2020

Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.
(2 Raja-raja 2:12)

BERKAT YANG TERSAMAR
Sering kali pada saat kejadian yang tidak menyenangkan menimpa, kita bertanya-tanya mengapa TUHAN membiarkan hal itu terjadi? Terlebih bila selama ini kita merasa telah menjadi anak Allah yang baik. Mengapa hal-hal buruk masih terjadi pada kita? Ada peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang sulit dimengerti pada saat kita mengalaminya. Kita hanya dapat berpasrah padaNYA, percaya bahwa DIA tidak akan memberikan yang buruk kepada kita (bdk Yer 29:11).

Ilustrasi kotbah di bawah ini mungkin dapat membantu kita memahami bahwa sebenarnya di balik "kemalangan" itu ada berkat yang tersamar, yang belum kita sadari pada saat itu.
Ada sebuah kisah tentang seorang raja yang mempunyai seorang teman baik. Temannya ini punya kebiasaan berkomentar, "Ini bagus!" atas semua situasi dalam hidupnya, positif maupun negatif.

Suatu hari Sang Raja dan temannya pergi berburu. Temannya mempersiapkan dan mengisikan peluru untuk senapan Sang Raja. Kelihatannya Sang Teman melakukan kesalahan dalam mempersiapkan senjata tersebut, karena setelah raja menerima senapan itu dari temannya, senapan itu meletus dan mengenai jempolnya.

Seperti biasa Sang Teman berkomentar, " Ini bagus!", yang oleh raja dijawab, "Tidak, ini tidak bagus!" dan raja tersebut menjebloskan temannya ke penjara.

Kurang lebih setahun kemudian, Sang Raja pergi berburu ke daerah yang berbahaya. Ia ditangkap oleh sekelompok orang kanibal, kemudian dibawa ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya dan menumpuk kayu bakar, bersiap untuk membakarnya. Ketika mereka mendekat untuk menyalakan kayu tersebut, mereka melihat bahwa Sang Raja tidak mempunyai jempol. Karena percaya pada tahayul, mereka tidak pernah makan orang yang tidak utuh. Jadi mereka membebaskan raja itu.

Dalam perjalanan pulang, raja tersebut ingat akan kejadian yang menyebabkan dia kehilangan jempolnya dan merasa menyesal atas perlakuannya terhadap teman baiknya. Raja langsung pergi ke penjara untuk berbicara dengan temannya. "Kamu benar, " katanya, "baguslah bahwa aku kehilangan jempolku." Dan ia menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada temannya itu. "Saya menyesal telah menjebloskan kamu ke penjara begitu lama. Saya telah berlaku jahat kepadamu."

"Tidak," kata temannya,"Ini bagus!". "Apa maksudmu, ‘Ini bagus!’? Bagaimana bisa bagus, aku telah mengirim kamu ke penjara selama satu tahun." Temannya itu menjawab, "Kalau kamu tidak memenjarakan aku, aku tadi pasti bersamamu."

Siapa yang tidak merasa marah, kesal, sakit hati, sedih atau bahkan menangis saat berpisah atau kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya? Demikian nabi Elisa harus mengalami hal itu ketika nabi Elia meninggalkannya naik ke Sorga dengan kereta api. Mentor, guru, pembimbingnya yans saban hari bersamanya tiba-tiba meninggalkannya, hingga membuat Elisa bersedih luarbiasa. Nabi Elisa memang wajar bersedih, terlebih dia meras belum siap untuk menggantikan posisi tugas bani Elisa panutan dan gurunya itu. Tetapi seandainya nabi Elisa memahami sedari awal maksud kepergian nabi Elia adalah rencana Tuhan, bukankah itu kebaikan bagi Elia, sebagai bukti Allah menyayangi, menyertai dan peduli terhadap nabiNya?

Kepergian orang yang kita kasihi memang sangatlah menyesakkan, bukan hanya berduka sedih, tetapi sering menjurus kesal dan marah, tetapi sulit untuk marah kepada siapa. Tetapi bukankah kita selayaknya memahami bahwa kepergian mereka tidak perlu ditangisi terlalu lama, sebab kepergian mereka adalah rencana Tuhan untuk kebaikannya? Sebagai orang yang mengasihi mereka yang telah pergi, bukankah merelakan dan mengiklaskan dia pergi bertemu Tuhan juga adalah bagian dari cinta kasih kita kepadanya? Tentu dibalik kehilangan seseorang atau sesuatu akan ada banyak hal kebaikan yang kita bisa terima, asal kita melihatnya dengan jernih tanpa terus meratap dan mengutuki kehilangan.

Saudara, bukankah kita saat ini memiliki banyak kehilangan? Ada yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan bertemu: Orangtua, anak, cucu, berlibur, kehilangan kesempatan: Pulang kampung, menjalankan resolusi awal tahun yang sudah rapi kita rencanakan dan matangkan untuk kita eksekusi di tahun awal tahu 2020, kehilangan tabungan yang sudah kita rencanakan untuk masa depan anak, keluarga, kesehatan atau untuk membeli barang yang kita inginkan kelak (mungkin juga liburan ke Hawai), kehilangan kesempatan berkumpul dan bersekutu: di Rumah Tuhan, kebaktian sektor-sektor, arisan-arisan, dan lainnya, kehilangan kesempatan untuk: Menerima pekerjaan baru (tempat pelayanan yang baru), jabatan baru, pangkat baru, bonus baru, dan segala hal yang baru di dalam karir kita yang selayaknya tahun ini di terima, dan banyak hal lain yang karena Pandemi ini harus tertunda, di dalam ketidakpastian atau bahkan hilang sama sekali.

Tetapi bukankah dibalik kehilangan yang kita terima, karena Pandemi ini menciptakan, melahirkan atau bahkan memaksakan kebiasaan baru yang akhirnya kita nikmati? Kebiasaan baru atau ‘The New Normal’ sejatinya adalah bagian dari sebuah hal yang akan mengajarkan kita banyak hal yang mungkin selama ini terlewatkan dari rutinitas kita dan pasti punya banyak hal yang menguntungkan kita, asalkan kita melihatnya dengan jernih dan positif. Maka marilah mempercayakan segala kehilangan yang telah kita terima kepada Tuhan, dengan mengimani, bahwa pasti ada banyak hal baik yang selayaknya akan kita terima setelah kita menerima kehilangan-kehilangan kita. Satu yang pasti, dibalik kesedihan nabi Elisa karena kehilangan orang yang dikasihinya Tuhan tetap ada dan menyertai dia bahkan menunjukkan penyertaannNya lewat kebiasaan baru yang memang tidak bisa persis sama dengan Elia tetapi Elisa merasakan bahwa  Elia bisa hadir lewat ilmu yang telah ia terima sebelumnya, meskipun tidak akan pernah sama persis tetapi tidak lebih buruk, demikian dengan kita yang mau tidak mau, setuju atau tidak harus menjalani kebiasaan baru ini, sebab dibalik kehilangan tidak ada untungnya untuk terus meratap, sebab kehidupan harus terus berjalan.

Mari melihat hal baik dan positif dari banyak hal yang hilang dari hidup kita, sembari menyerahkannya ke tangan Tuhan, agar Tuhan menyertai dan menguatkan kita menjalani kehidupan normal yang baru dengan penuh sukacita dan ucapan syukur: Tentu agar duka kehilangan akan digantikanNya dengan sukacita kehilangan: Inilah yang nanti kita sebut sebagai Berkat Yang Tersamar!.

Tetap semangat walau kehilanganmu mungkin lebih banyakd ari saudaramu yang lain,
Berserah kepada Tuhan,
Tuhan mendengar doa,
Salam Sehat..
Horas dan Tuhan memberkati anda seluruhnya.
Tabe.

Selasa, 19 Mei 2020

Anak Cacat Dalam Perahu Buatan Bapa II Yohanes 16:30 II Renungan Harian II Rabu, 20 MEi 2020.

Renungan Harian
(Almanak HKBP)
Rabu, 20 Mei 2020

Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."
(Yohanes 16:30)

Bapa yang Baik

Ada seorang bapa yang begitu sayang kepada anaknya karena anaknya cacat. Cacatnya tidak tanggung-tanggung. Tangannya tidak bisa bergerak, tidak bisa berjalan, dan tidak bisa berbicara. Anak ini kalau mau berkomunikasi dengan bapanya harus memakai bahasa isyarat. Cacat seumur hidupnya. Suatu hari anak ini dengan bahasa isyarat mengatakan, “ pa saya punya cita-cita ikut lomba triatlon ”. Itu adalah tri lomba dimana para pesertanya harus berenang, naik sepeda dan lari.

Bayangkan, sudah cacat seperti itu tapi masih mau ikut tri lomba. Di dalam hatinya ada semangat di mana dia ingin menjalani hidup ini untuk mencapai hal-hal yang besar. Anak ini tidak bisa, tapi dia minta papanya untuk ikut perlombaan itu, pertandingan yang berkelas internasional itu.

Panitianya bingung bagaimana membiarkan mereka untuk ikut berlomba, tapi akhirnya mereka diijinkan. Papanya membuat sebuah perahu. Anaknya yang cacat di tidurkan di perahu. Papanya menarik perahu itu dengan tali, dia berenang bermil-mil jauhnya. Dia berenang demi anaknya. Setelah itu dia gendong anaknya, dia taruh di atas kereta dorongnya. Anaknya ditaruh, dia yang kayuh bermil-mil jauhnya. Setelah itu dia gendong lagi anaknya, meletakkannya di kursi roda dan dia lari.

Dalam perlombaan itu semua orang sudah mencapai garis finish. Tapi penonton tidak ada yang mau pulang. Karena mereka mau menunggu anak dan bapa yang luar biasa ini. Delapan jam kemudian mereka melihat dari jauh, ada seorang bapa, bergumul, ngos-ngosan tapi dia terus lari. Dia dorong anaknya dan sampai di garis finish. Anak ini bertepuk tangan dengan gembira walaupun tangannya tidak sempurna. Bapa ini menangis, semua orang menangis. Itulah gambaran Bapa kita di Surga. Itulah hati seorang Bapa.

Kita adalah seperti orang cacat ini. Kita adalah seperti orang cacat yang ketika dulu belum percaya Yesus, tidak ada seorangpun yang bertindak layaknya Bapa dalam cerita ini. sehingga hidup kita hancur. Kita tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi Bapa yang di Surga menemukan kita. Dan Dialah Bapa yang baik, yang mau membawa kita mencapai garis finish.

Jika kita sudah mengetahui hal ini sejak lama, lalu mengapa kita masih belum yakin akan Yesus yang tentu jauh lebih baik dari bapa yang ada dalam cerita ini. Tidak mungkin kita berkata bapa kepada orangtua kita, tetapi mempercayai bapa orang lain. Tidak mungkin kita berkata bapaku orang yang hebat karena telah membimbing dan berjuang membesarkanku, tetapi lebih nyaman tinggal dan hidup dengan bapa orang lain. Konsekuensi dari ucapan haruslah diikuti dengan perbuatan. Seharusnya kita mampu dengan iman mengaku dan menghidupi pengakuan kita akan ketuhanan Yesus. Jangan hanya dalam doa dan pujian kita meyakini Yesus layak dipercaya sebab Ia tahu segala sesuatu yang kita butuhkan, juga harus seturut dengan perbuatan atau aktifitas kita setiap saat. sebab kita memang adalah manusia 'cacat' yang tidak mampu berbuat apapun diluar penyertaannya.

Memang tidak mudah percaya dan mengimani Yesus dengan konsekuensi penderitaan yang akan kita hadapi, terlebih godaan kedagingan kita yang sangat sulit meneladani cara hidup Yesus. Tetapi dengan keyakinan penuh bahwa Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, raja dari segala raja, Tuhan dari segala tuan dan tuhan di dunia, solusi dari segala pergumulan yang ada: Seharusnya kita mampu dan dikuatkan, walau kita penuh dengan 'cacat' dan kekurangan, karena Dia bersama dengan kita, juga memperjuangkan segala kesulitan kita hingga akhir hidup kita, asalkan kita menyerahkan dan meletakkan sepenuhnya segala sesuatunya ‘dipangkuan’Nya.

Selamat mengimani pengorbanannya demi keselamatan kita..
Tuhan mendengar doa dan kerinduan anda…
Salam sehat…
Tuhan memberkati.
Horas.

Buku Ende No. 256:1 “JESUS KRISTUS I DO RAJA” BL.95
1Jesus Kristus i do Raja Pinabangkit ni AmaNa
Manggomgomi sasude Manggomgomi sasude
Jala nasa hajolmaon Tu Ibana do mar-Tuhan
Parhatopotonna be Parhatopotonna be.
(Yesus Kristus Dia Raja, dinobatkan Allah Bapa,
Raja alam semesta, raja alam semesta.
Semua umat manusia ‘kan mengaku Yesus Tuhan,
Akan sujud menyembah, akan sujud menyembah.)

Senin, 18 Mei 2020

Jarak Kita Dengan Allah Sejauh Indonesia - Yerusalem? II Yohanes 16:23 II Renungan Harian II Selasa, 19 Mei 2020



Renungan Harian
(Almanak HKBP)
Selasa, 19 Mei 2020

“Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. 
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa,
akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku”
(Yohanes 16:23)

Doa Membuat Kita akan selalu Terhubung Dengan Allah

Anda mungkin mengenal tokoh-tokoh kristiani seperti Hudson Taylor, Martin Luther, Gordon Lindsay, atau Corrie ten Boom. Tahukah Anda mengapa tokoh-tokoh ini bisa dipakai Allah secara luar biasa? Salah satu kesamaan yang mereka miliki adalah kehidupan doa yang luar biasa.

Corrie ten Boom mengatakan, "Iblis tersenyum ketika Anda menyusun suatu rencana. Ia tertawa ketika Anda terlalu sibuk. Namun, Iblis gemetar saat Anda berdoa".

Gordon Lindsay berkata, "Waktu yang Anda manfaatkan untuk berhubungan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia".

Hudson Taylor mengatakan, "Jangan melakukan konser terlebih dulu, baru memeriksa alat musik Anda. Mulailah setiap hari bersama Allah".

Martin Luther berkata, "Begitu banyak yang harus saya kerjakan hari ini, maka saya menggunakan tiga jam pertama saya untuk berdoa".

Kita tidak bisa hidup tanpa doa. Tanpa doa, kehidupan rohani kita menjadi lemah, sehingga kita mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Iblis tidak akan takut jika setiap hari kita menghadiri pertemuan rohani di gereja untuk mendengar bimbingan rohani menghadapi Iblis dan aneka rupa tantangan dunia. Iblis tidak akan takut jika kita membuat program-program gereja yang sangat menarik. Iblis bahkan tertawa terbahak-bahkan saat melihat kesibukan kita yang padat di gereja. Semua itu tidak akan membuat Iblis gentar. Namun, saat kita berdoa, Iblis akan gemetar dan lari dari hadapan kita.

Demikian halnya nats hari ini, diman murid-murid merasa putus asa, sebab akan tiba saatnya Yesus akan pergi meninggalkan mereka ke Sorga (Yohanes 16:5 “tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku,…”). Banyak pertanyaan yang muncul dan tentu menambah rasa khawatir mereka: Bagaimana misi memberitakan Injil ddunia, yang telah lama mereka bangun bersama Yesus, apakah akan berhenti? Bagaimana menghadapi para Imam dan orang Farisi yang sering sekali menyerang dan mempermalukan pengikut Kristus di depan banyak orang, siapa yang akan menghadapi mereka lagi? Siapa lagi yang akan membimbing dan mengarahkan bahkan menegur mereka ketika melakukan kesalahan? Siapa lagi yang akan menunjukkan keajaiban Allah lewat hardikan badai dan keajaiban lain? Siapa lagi yang akan bersama kita menghadapi pergumulan yang setiap hari datang tanpa kenal lelah? Tentu hal ini akan membuat siapapun merasa sedih dan tertekan, saat orang yang setiap hari bersama kita, membimbing, mengajari bahkan melakukan misi bersama, suatu ketikan akan pergi meninggalkan kita. Demikian halnya yang dialami oleh para murid-murid.

Ditengah ketakutan dan kegundahan mereka, Yesus tetap menghibur mereka dan berjanji, bahwa hal ini hanya sementara, sebab tiba saatnya akan datang Roh penghibur yang senantiasa akan membimbing mereka dekat kepada Yesus bahkan mengarahkan mereka  untuk terus terhubung dengan Yesus lewat doa (Yoh. 16:13-15). Berita ini tentu menggembirakan bagi murid-muridNya, sama dengan kita sebagai orang percaya yang meyakini bahwa: “Jarak kita dengan Allah, hanya sejauh doa” bukan antara Indonesia ke Yerusalem, sehingga memaksa kita untuk berangkat berdoa ke Yerusalem. Tetapi jarak kita sangat dekat bahkan amat dekat, hanya sejauh doa.

Itulah mengapa doa bisa menembus batas ketidakmungkinan dan kemustahilan. Kemampuan kita sangat terbatas. Saat ini ditempat dimanapun kita berada, seluruh orang didalam tekanan dan kecemasan karena Pandemi, ingin tetap dirumah tidak melakukan aktifitas, bagaimana dengan kebutuhan keluarga? Ingin keluar rumah dan melakukan aktifitas, bagaimana dengan ancaman Virus? Tanpa doa, kita tidak dapat berbuat banyak. Sebab itu, mari kita memulai kehidupan setiap hari dengan berdoa! Percaya Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kita menghadapi berbagai persoalan di dunia ini.

Selamat pagi…
Apakah anda sudah berdoa?

Salam sehat…
Tuhan memberkati!



Buku Ende No. 813:1 “Pangido hamu ma”
1Pangido hamu ma, sai na lehononNa do tu hamu,
Lului hamu ma, sai na jumpangan do hamu,
Sai tuktuhi hamu ma, sai na ungkaponNa do di hamu,
Angka pangidoanmuna disarihon Debatamu.

(Mintalah, akan diberikan kepadamu,
Carilah, maka engkau akan mendapat,
Ketoklah, maka akan dibukakan bagimu,
Segala permohonanmu dipenuhi oleh Allahmu)